Lestarikan Tradisi, Warga Gedangkulut Gelar Sedekah Bumi Penuh Makna

lidikmedia
Img 20260404 Wa0220

 

Gresik | Lidikmedia — Ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian yang melimpah diwujudkan masyarakat melalui tradisi sedekah bumi. Ritual ini menjadi bagian dari kearifan lokal yang sarat makna, sebagai bentuk terima kasih kepada Allah SWT sekaligus penghormatan terhadap alam.

Kegiatan sedekah bumi tersebut digelar di Balai Dusun Sawahan, Desa Gedangkulut, Kecamatan Cerme, dengan suasana penuh kebersamaan dan suka cita layaknya pesta panen.

Dalam prosesi tersebut, disiapkan dua belas tumpeng gunungan serta tumpeng tolak bala (sego golong) yang digunakan dalam doa bersama. Doa dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur Dusun Sawahan. Tumpeng gunungan sendiri melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan para petani setempat.

 

Img 20260404 Wa0219

 

 

Acara ini turut dihadiri Camat Cerme Umar Hasyim, Kapolsek Cerme, perwakilan Koramil, Kepala Desa Gedangkulut H. Sahroni, BPD, kepala dusun, serta tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Camat Cerme Umar Hasyim menyampaikan bahwa kehidupan manusia tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarsesama, tetapi juga harus selaras dengan alam.

“Lingkungan sosial dan alam menjadi bagian penting dari kearifan lokal yang harus terus dilestarikan. Perubahan zaman, termasuk perkembangan teknologi pertanian, harus diimbangi dengan kesadaran sumber daya manusia untuk tetap menjaga dan melestarikan warisan ini,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan swasembada pangan tidak lepas dari pemanfaatan teknologi pertanian modern yang diiringi dengan doa dan rasa syukur kepada Allah SWT.

 

Img 20260404 Wa0221

 

Sementara itu, Kepala Desa Gedangkulut, H. Sahroni, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengalaman selama menjabat sebagai kepala dusun hingga menjadi kepala desa memberikan banyak pelajaran dalam mengelola potensi pertanian.

“Dusun Sawahan memiliki potensi pertanian yang sangat baik. Kesuburan tanah menjadi sumber kehidupan masyarakat, sehingga perlu dijaga sebagai bagian dari ketahanan pangan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pengelolaan lahan dilakukan secara optimal, termasuk memanfaatkan lahan sebagai penampungan air guna mendukung produktivitas pertanian hingga tiga kali masa panen dalam setahun, jika kebutuhan air tercukupi.

Menurutnya, ketersediaan sumber pengairan menjadi faktor penting dalam meningkatkan hasil pertanian yang makmur, sejahtera, dan berkeadilan.

H. Sahroni juga menekankan pentingnya peran generasi muda untuk tetap mencintai sektor pertanian sebagai penopang kehidupan masyarakat.

“Pesan kami kepada generasi muda, cintailah lahan pertanian. Dari sinilah kesejahteraan masyarakat dapat terwujud dan perekonomian akan semakin baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, sejak menjabat sebagai kepala dusun hingga kini menjadi kepala desa, fokus utama yang terus dikembangkan adalah program ketahanan pangan.

“Dulu saat menjadi kepala dusun, kami fokus pada swasembada pangan tingkat dusun. Kini, program tersebut kami perluas ke tingkat desa,” jelasnya.

Selain itu, pembangunan infrastruktur pertanian, penguatan BUMDes, koperasi, ketersediaan pupuk, obat hama, serta dukungan penyuluhan dari UPT Pertanian terus ditingkatkan guna mendorong kemajuan desa.

“Mari kita terus menjaga kebersamaan, bergotong royong, dan membangun desa agar menjadi desa yang makmur, dengan kebutuhan pangan, sandang, dan papan yang tercukupi,” pungkasnya.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan dengan pembagian gunungan hasil bumi kepada warga sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran bersama. (Isa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *