Umum  

Dinkes Gresik Catat Penurunan Kematian Ibu, Namun Kematian Bayi Naik

lidikmedia
Img 20260105 Wa0277

 

Gresik | Lidikmedia.com – Jumlah kematian ibu hamil di Kabupaten Gresik sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, kondisi berbeda justru terjadi pada angka kematian bayi yang mengalami peningkatan.

Hal ini menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gresik untuk memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh.

Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik mencatat, sepanjang tahun 2025 terdapat 11 kasus kematian ibu. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 15 kasus.

Berbeda dengan tren positif pada AKI, Angka Kematian Bayi (AKB) di Gresik justru meningkat. Sepanjang tahun 2025, tercatat 114 bayi meninggal, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 84 kasus.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Gresik, dr. Anik Luthfiyah menjelaskan bahwa sebagian besar kematian ibu disebabkan oleh faktor non-obstetri, seperti penyakit kronis yang sudah diderita ibu sebelum atau selama kehamilan.

“Penyakit penyerta seperti diabetes, obesitas, dan gangguan jantung masih menjadi risiko utama. Kondisi ini memperberat kehamilan jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak awal,” ungkapnya, Senin (5/1/2026).

Dari sisi usia, mayoritas kasus kematian ibu terjadi pada kelompok usia 20 hingga 34 tahun dengan tujuh kasus. Sementara hamil berusia di atas 35 tahun menyumbang tiga kasus, dan satu kasus terjadi pada usia remaja 16–19 tahun.

“Dominan masih di usia produktif di 20 hingga 34 tahun,” terangnya.

Sementara terkait AKB, dr Anik menyebutkan Asfiksia atau gangguan pernapasan menjadi penyebab tertinggi kematian bayi, dengan kontribusi sekitar 36 persen.

Selain itu, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) juga menjadi faktor signifikan dengan porsi lebih dari seperempat total kasus.

“Kondisi ini tidak terlepas dari kondisi gizi ibu yang kurang baik. Penyakit yang diderita ibu selama kehamilan juga turut berpengaruh terhadap kesehatan bayi yang dilahirkan. BBLR sangat berkaitan dengan kualitas kesehatan ibu. Jika ibu tidak sehat, risiko pada bayi akan semakin besar,” jelasnya.

Untuk merespons tantangan tersebut, Dinkes Gresik terus menjalankan berbagai program strategis meliputi pembinaan kesehatan remaja melalui suplementasi tablet tambah darah di sekolah menengah, pemeriksaan kesehatan calon pengantin, peningkatan kualitas layanan antenatal dengan minimal enam kali kunjungan kehamilan, hingga penyediaan layanan USG yang terintegrasi dengan BPJS di seluruh puskesmas.

Selain itu, Dinkes Gresik juga mengembangkan program peningkatan mutu layanan melalui Quality Improvement Collaborative (QIC) bekerja sama dengan Universitas Airlangga.

Program ini melibatkan sejumlah puskesmas dan rumah sakit di Gresik guna memperkuat sistem rujukan dan penanganan kasus ibu dan bayi berisiko tinggi.

“Tahun depan cakupan program ini akan diperluas, baik jumlah puskesmas maupun rumah sakit yang terlibat,” pungkasnya. (Isa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *