LIDIK MEDIA/BOJONEGORO – Aksara Jawa atau Carakan ternyata bukan sekadar lambang sastra untuk menulis, melainkan sarat akan piwulang spiritual yang mendalam mengenai eksistensi manusia. Di dalam ke-20 aksara tersebut, para leluhur Jawa telah menanamkan peta spiritual raga serta cetak biru perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta.
Dalam kosmologi kebatinan Jawa (Kejawen), ke-20 aksara ini dibagi menjadi empat baris filosofis. Masing-masing baris merepresentasikan makom atau titik energi tertentu di dalam raga manusia, yang berkolaborasi erat dengan konsep Sedulur Papat Limo Pancer.
Berikut adalah rincian lengkap makna batin serta letak papan kedudukan (papan manggone) ke-20 aksara Jawa di dalam diri manusia:
BARIS 1: HA – NA – CA – RA – KA
Melambangkan asal mula kehidupan, kesadaran awal, dan bekal rohani manusia saat lahir.
● HA (Hurip): Makna hidup yang suci yang bersumber dari Gusti Allah.
~ Papan Manggone: Ada di Ubun-ubun (pusat spiritual atas/Sahasrara).
● NA (Nur): Cahaya ketuhanan, sifat kebaikan, dan kesucian dalam diri.
~ Papan Manggone: Ada di Mata (penglihatan hati dan lahir).
● CA (Cipta): Pikiran, daya nalar, logika, dan kemampuan merancang ide.
~ Papan Manggone: Ada di Otak / Kepala (pusat logika).
● RA (Rasa): Jiwa, perasaan, empati, intuisi, dan rasa sejati.
~ Papan Manggone: Ada di Dada / Jantung (pusat emosi dan kalbu).
● KA (Karsa): Kehendak, niat, kemauan keras, tekad, dan daya gerak.
~ Papan Manggone: Ada di Seluruh Raga / Tubuh (energi penggerak).
BARIS 2: DA – TA – SA – WA – LA
Melambangkan ujian hidup, dualitas (pertentangan), dan pengendalian nafsu duniawi.
● DA (Dzat): Hakikat diri manusia sebagai utusan Tuhan di bumi.
~ Papan Manggone: Ada di Telinga (pusat pendengaran/penerima petunjuk).
● TA (Tatag): Keteguhan hati, konsisten, dan tidak goyah oleh cobaan.
~ Papan Manggone: Ada di Mulut / Lidah (menjaga ucapan agar tetap lurus).
● SA (Sabar): Sikap sumeleh, sabar, ikhlas, dan pasrah menerima takdir.
~ Papan Manggone: Ada di Punggung (lambang memikul beban hidup dengan sabar).
● WA (Wani): Keberanian menegakkan kebenaran dan melawan hawa nafsu sendiri.
~ Papan Manggone: Ada di Tangan (lambang eksekusi dan tindakan nyata).
● LA (Lali): Pengingat agar tidak lupa pada asal-usul (Sangkan Paraning Dumadi).
~ Papan Manggone: Ada di Kaki (lambang langkah kaki agar tidak salah jalan).
BARIS 3: PA – DHA – JA – YA – NYA
Melambangkan keseimbangan, kejayaan batin, dan bersatunya kekuatan lahir-batin.
● PA (Papan): Wadah raga manusia untuk menampung jiwa yang suci.
~ Papan Manggone: Ada di Lambung / Perut (wadah kebutuhan jasmani).
● DHA (Dhawuh): Menerima titah, petunjuk gaib, atau firman dari Tuhan.
~ Papan Manggone: Ada di Pusar (Wudel) (pusat koneksi plasenta saat bayi).
● JA (Jatining Diri): Menemukan jati diri sejati atau hakekat kemanusiaan.
~ Papan Manggone: Ada di Darah (energi kehidupan yang mengalir).
● YA (Yekti): Kebenaran mutlak, keyakinan iman yang tidak bisa diganggu gugat.
~ Papan Manggone: Ada di Tulang / Sumsum (tiang penyangga raga).
● NYA (Nyata): Pembuktian spiritual lewat tindakan konkret sehari-hari.
~ Papan Manggone: Ada di Daging / Kulit (wujud fisik luar yang terlihat nyata).
BARIS 4: MA – GA – BA – THA – NGA
Melambangkan akhir hayat, kematian ego (ngasorake diri), dan kembalinya ruh kepada Sang Pencipta.
● MA (Manunggal): Bersatunya hamba dengan Tuhannya (Manunggaling Kawula Gusti).
~ Papan Manggone: Ada di Napas (udara keluar masuk sebagai tanda hidup).
● GA (Gayuh): Menggapai kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat (Kamulyan Sejati).
~ Papan Manggone: Ada di Keleenjar Kelamin / Air Mani (asal muasal penciptaan fisik).
● BA (Bakal): Menyadari bahwa raga ini hanya bakal (calon) tanah yang akan hancur.
~ Papan Manggone: Ada di Dubur / Saluran Pembuangan (tempat membuang kotoran duniawi).
● THA (Thukul): Tumbuhnya kesadaran baru atau lahirnya warisan kebaikan setelah tiada.
~ Papan Manggone: Ada di Rambut / Kuku (bagian tubuh yang terus tumbuh).
● NGA (Ngakiri / Ngasorake): Memasrahkan total seluruh jiwa raga, pasrah pati (kematian), dan kembali menjadi nol/kosong.
~ Papan Manggone: Ada di Pintu Keluar Ruh (saat sakaratul maut).
Harmonisasi Bersama Sedulur Papat Limo Pancer
Kekuatan ke-20 aksara di dalam raga manusia tersebut tidak dapat berjalan harmonis tanpa keterlibatan Sedulur Papat Limo Pancer sebagai penyeimbang energi makrokosmos dan mikrokosmos:
● Marmati (Kawah/Air Ketuban): Kakang tua yang keluar lebih dulu, menempati arah Timur (Wetan) membawa energi Cipta (Pikiran).
● Ari-ari (Plasenta): Adik yang merawat bayi di kandungan, menempati arah Barat (Kilen) membawa energi Karsa (Kehendak).
● Getih (Darah): Pengompa kehidupan raga, menempati arah Selatan (Kidul) membawa energi Rasa (Perasaan).
● Puser (Tali Pusat): Penyambung nyawa raga, menempati arah Utara (Lor) membawa energi Kekuatan Fisik.
● Pancer: Yaitu Diri Sendiri (Jiwa dan Raga) yang bertindak sebagai nahkoda atau pusat keseimbangan di tengah.
Penutup
Konsep penyelarasan 20 aksara Jawa dan Sedulur Papat Limo Pancer ini menegaskan bahwa kebudayaan Jawa bukan sekadar tradisi lisan tanpa makna. Melalui laku olah rasa, hening, dan meditasi batin yang tekun, manusia dipandu untuk mengenali mikrokosmos di dalam dirinya agar mampu mencapai ketenteraman hidup yang hakiki. Pemahaman filosofis ini menjadi bukti autentik tingginya spiritualitas leluhur Nusantara dalam memandang relasi intim antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta.
Penulis : Narto






