Gresik | Lidikmedia.com – Nurul Islam Gresik mengambil langkah proaktif dalam melindungi warga sekolah dari ancaman keuangan digital dengan menggelar sosialisasi bahaya pinjaman online (pinjol) dan investasi ilegal.
Berlangsung di Aula Sekolah, Jumat (12/12/2025), kegiatan ini menghadirkan narasumber langsung dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur.
Kegiatan ini ditujukan kepada siswa dan wali murid sebagai upaya memperkuat literasi keuangan, di tengah maraknya kasus jebakan pinjol yang menyasar generasi muda.
Kepala SMK Nuris Gresik, M Eko Nurul Ashidiq, Kepala SMK Nurul Islam Gresik, M Eko Nurul Ashidiq menjelaskan bahwa maraknya kasus pinjol ilegal hingga jebakan keuangan digital menjadi ancaman serius bagi keluarga, termasuk lingkungan sekolah.
Karena itu, pihaknya merasa perlu menghadirkan edukasi positif agar siswa maupun wali murid tidak salah langkah.
“Bahaya pinjol ini harus dipahami bersama. Kita perlu edukasi positif agar tidak salah jalan. Maka dari itu kami datangkan langsung ahlinya yakni OJK untuk memberikan pemahaman yang benar,” ungkapnya.
Selain memberikan pemahaman mengenai bahaya pinjol, Eko juga memaparkan perkembangan program sekolah, khususnya terkait pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) tahun ajaran 2025–2026.
Tahun ini, SMK Nuris mengubah pola PKL dengan memajukan jadwal dari semester 5 ke semester 4 untuk siswa kelas 11.
“Tahun ini PKL dilaksanakan dalam dua gelombang. Dari 130 siswa, sudah 60 persen siap diberangkatkan pada Januari. Sisanya menunggu konfirmasi dari perusahaan. Orang tua tidak perlu khawatir karena semua siswa tetap akan berangkat sesuai jadwal dan tanpa biaya alias gratis,” jelasnya.
Ketua Umum Yayasan Nurul Islam, Ali Muchsin, menambahkan bahwa pihak yayasan telah menegaskan pentingnya menjaga lingkungan sekolah dari aplikasi berbahaya, baik pinjol, konten asusila, hingga judi online. Segala bentuk penyimpangan oleh tenaga pendidik juga telah diberi aturan tegas.
“Dua bulan lalu kami sudah memberikan peringatan keras kepada para guru. Jika ditemukan aplikasi pinjol atau konten asusila di perangkat pendidik, kami akan langsung menindak. Dampak digital negatif ini sangat luas, apalagi jika sampai melibatkan judi online,” tegasnya.
Sementara itu, Asisten Direktur Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Jawa Timur, Indrawan Nugroho U menyoroti pentingnya peningkatan literasi keuangan terutama bagi perempuan dan generasi muda.
Berdasarkan data nasional, tingkat literasi keuangan Indonesia pada 2025 baru mencapai 66,46 persen, sementara indeks inklusi keuangan sudah mencapai 80,51 persen. Ketimpangan ini menunjukkan masih banyak masyarakat yang menggunakan produk keuangan tanpa memahami risiko di baliknya.
“Gen Z adalah penggerak ekonomi masa depan, tetapi juga kelompok yang paling rentan. Data menunjukkan 70 persen pengguna paylater adalah usia 18–35 tahun. Banyak dari mereka terjebak perilaku konsumtif seperti FOMO, YOLO, doom spending, hingga terpengaruh influencer,” paparnya.
Dalam sosialisasi tersebut, OJK memaparkan ciri-ciri investasi ilegal, modus penipuan pinjol, risiko pencurian data pribadi, serta cara mengenali praktik penagihan yang tidak beretika.
Masyarakat juga diimbau untuk selalu mengecek legalitas layanan keuangan melalui Kontak 157 atau situs resmi OJK.
“Literasi keuangan adalah fondasi untuk menciptakan kesejahteraan finansial. Tanpa pemahaman yang benar, sangat mudah seseorang terjerat penipuan digital,” pungkas Indrawan.
Melalui kegiatan ini, SMK Nuris Gresik menegaskan komitmennya menyediakan pendidikan yang tidak hanya fokus pada kompetensi akademik, tetapi juga membekali siswa dengan kemampuan bertahan di era digital yang penuh risiko.
Sosialisasi diharapkan menjadi langkah awal untuk menciptakan generasi yang lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial. (Isa)












