Diduga Tak Sesuai Spesifikasi Teknis, Proyek Rabat Beton Desa Sembunglor Disorot

lidikmedia
Img 20260118 Wa0132

Bojonegoro | LidikMedia.com — Pembangunan jalan rabat beton di Desa Sembunglor, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, yang bersumber dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Tahun Anggaran 2025, kini menjadi perhatian publik. Proyek dengan nilai anggaran sekitar Rp1,6 miliar tersebut diduga tidak sepenuhnya sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB), khususnya pada aspek penulangan besi.

Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, ditemukan adanya dugaan penggunaan besi wiremesh yang kualitasnya tidak seragam dan berada di bawah ukuran standar. Wiremesh yang seharusnya berdiameter 8 mm, saat dilakukan pengecekan menggunakan alat ukur, menunjukkan hasil bervariasi, yakni 7,2 mm, 7,3 mm, 7,4 mm, 7,5 mm hingga 7,8 mm. Temuan ini menimbulkan dugaan adanya campuran besi dengan spesifikasi di bawah standar yang berpotensi memengaruhi kekuatan struktur beton.

Selain itu, pada bagian sambungan rabat beton, pemasangan besi dowel juga dinilai tidak sesuai ketentuan teknis. Di beberapa titik, jumlah besi dowel yang terpasang hanya tiga hingga empat batang, bahkan tanpa dilengkapi dudukan atau penyangga besi dowel. Padahal, berdasarkan keterangan kepala desa, jumlah besi dowel yang direncanakan sekitar 10 batang di setiap titik sambungan.

Img 20260118 Wa0133
Pengukuran Pada Besi Wiremesh

Kepala Desa Sembunglor, Saturi, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa anggaran proyek rabat beton tersebut bersumber dari BKK tahun 2025.

“Anggarannya sekitar Rp1,6 miliar dari bantuan keuangan khusus tahun 2025. Untuk wiremesh, kami merakit sendiri. Besi dowel jumlahnya kalau tidak salah sekitar 10, tapi dipasang 3 kadang 4 dulu karena dibuat lintasan mobil molen, nanti saat pengecoran akan di tambah. Yang mengerjakan semua tim pelaksana (timlak), mas,” ujarnya. Sabtu (10/1/2026)

Namun, ketika ditunjukkan fakta di lapangan bahwa besi dowel hanya terpasang tiga hingga empat batang dan langsung dilakukan pengecoran tanpa dudukan penyangga, Saturi mengaku tidak mengetahui kondisi tersebut.

“Kemarin saya dikasih foto banyak dowel, mas, sama timlak. Saya nggak tahu kalau ada yang dipasang cuma 3 dan 4 lalu langsung dicor,” jelasnya.

Terkait dugaan penggunaan besi wiremesh di bawah standar, Kepala Desa menegaskan bahwa proses pengadaan material telah dilakukan sesuai ketentuan.

“Kalau pembelian besi sudah sesuai,” katanya.

Meski demikian, hasil pengukuran fisik di lapangan yang menunjukkan diameter besi tidak mencapai ukuran 8 mm secara merata memunculkan pertanyaan mengenai kualitas material yang digunakan serta lemahnya pengawasan teknis selama pelaksanaan proyek.

Sejumlah pihak menilai kondisi tersebut berpotensi berdampak pada daya tahan dan umur konstruksi rabat beton. Oleh karena itu, masyarakat berharap agar pihak kecamatan, dinas teknis terkait, maupun aparat pengawas internal pemerintah daerah segera melakukan audit fisik dan administrasi secara menyeluruh terhadap proyek yang dibiayai dari BKK tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, tim pelaksana kegiatan (Timlak) belum memberikan keterangan resmi terkait temuan pemasangan besi dowel dan hasil pengukuran besi wiremesh di lapangan. (Tim/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *