Rayyan Arka Dirkha Mendunia Lewat Tari Pacu Jalur, Bocah Kuansing Ini Jadi Simbol Budaya Riau

lidikmedia
Screenshot 20250713 084135

 

Riau | Lidikmedia.com – Dari tepian Sungai Batang Kuantan, sosok kecil bernama Rayyan Arka Dirkha kini menggema hingga ke panggung dunia. Bocah kelas 5 SD asal Desa Pintu Gobang Kari, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau ini viral berkat aksinya yang memukau sebagai penari Togak Luan dalam tradisi Pacu Jalur—lomba perahu panjang khas masyarakat Kuansing.

Aksi Rayyan yang penuh semangat dan ekspresi energik saat berdiri di ujung perahu telah menyihir jutaan penonton di media sosial. Gaya tangannya yang melambai tegas, tubuh yang lentur menari dalam irama ombak sungai, hingga ekspresi wajah yang menyatu dengan semangat para pendayung, membuat banyak orang menyebutnya sebagai “Anak Coki” yang membawa aura farming alias pancaran energi positif luar biasa.

“Saya ingin budaya kita dikenal dunia. Tari Pacu Jalur bukan hanya hiburan, tapi warisan yang membanggakan,” ujar Rayyan dalam sebuah wawancara usai tampil di acara penyambutan Duta Pariwisata Provinsi Riau, Senin (8/7/2025).

 

Dari Sungai Kuantan ke Dunia

Rayyan mulai tampil sebagai penari Pacu Jalur sejak usia 9 tahun. Ia belajar dari lingkungan sekitar, terutama dari pamannya yang juga atlet Pacu Jalur. Meskipun awalnya sering terjatuh dari perahu saat latihan, ia terus berlatih tanpa lelah. Kini, ia bahkan piawai menjaga keseimbangan meski perahu berguncang hebat di sungai.

Aksinya pertama kali viral di TikTok dan YouTube pada awal Juli 2025. Video yang memperlihatkan Rayyan menari di ujung perahu saat acara latihan dan festival kecil di Kuansing ditonton jutaan kali hanya dalam beberapa hari.

Tak lama, gayanya ditirukan oleh tokoh-tokoh nasional dan internasional, mulai dari Gibran Rakabuming, Achraf Hakimi (PSG), hingga maskot AC Milan. Bahkan di beberapa kanal olahraga dan budaya internasional, gerakan tariannya dijadikan simbol semangat dan ekspresi budaya lokal Indonesia yang kuat.

Diangkat Jadi Duta Wisata Provinsi Riau

Melihat prestasinya yang luar biasa dan pengaruh positifnya terhadap promosi budaya daerah, Pemerintah Provinsi Riau secara resmi mengangkat Rayyan Arka Dirkha sebagai Duta Pariwisata Riau 2025. Pengukuhan dilakukan langsung oleh Gubernur Riau Abdul Wahid, di Pekanbaru.

“Rayyan adalah contoh anak Riau yang mampu membawa budaya lokal hingga dikenal dunia. Ini bukan sekadar kebanggaan, tapi semangat bagi anak-anak Indonesia lainnya,” kata Gubernur Wahid.

 

Rayyan juga menerima beasiswa pendidikan senilai Rp 20 juta, serta didampingi oleh Dinas Pariwisata Riau dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk pengembangan bakat dan pelestarian budaya Pacu Jalur.

Siap Diajukan ke UNESCO

Tak hanya sosok Rayyan, budaya Pacu Jalur kini tengah dipersiapkan untuk diajukan sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama Pemerintah Riau sedang menyusun dokumen lengkap dan kajian etnografisnya.

“Rayyan memberi semangat baru dalam pengusulan Pacu Jalur ke UNESCO. Kita berharap tahun depan sudah bisa diajukan ke forum internasional,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam pertemuannya dengan Rayyan di Jakarta, Kamis (11/7/2025).

 

Cita-cita dan Kehidupan Sederhana

Di balik sorotan dan pujian, Rayyan tetap menjalani hari-harinya seperti anak-anak seusianya. Ia masih aktif sekolah di SDN 013 Pintu Gobang Kari, membantu orang tua di rumah, dan bermain bersama teman-temannya.

Ditanya soal cita-cita, Rayyan menjawab dengan polos namun percaya diri:

“Saya ingin jadi tentara. Tapi kalau bisa, saya juga mau jadi Gubernur Riau biar bisa bantu banyak orang,” ucapnya sambil tersenyum malu-malu.

 

Ayahnya, Jufriono, mengatakan bahwa keluarga tetap menjaga keseharian Rayyan agar tetap rendah hati meskipun kini dikenal banyak orang.

Penutup: Simbol Budaya dari Ujung Sungai

Rayyan Arka Dirkha bukan sekadar viral. Ia telah menjadi wajah baru dari semangat pelestarian budaya lokal Indonesia. Dalam setiap gerakan tangannya, dalam setiap hentakan kaki di ujung jalur, tergambar semangat anak bangsa yang mencintai akar budayanya.

Dari Sungai Batang Kuantan, suara dan tarian Rayyan kini menyebar ke dunia. Ia bukan sekadar anak penari, tapi simbol bahwa dari desa kecil di Riau, budaya Indonesia bisa menggetarkan dunia. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *