Gus Yani Kunjungi SRT 45 Semarang, Siapkan Replikasi Sekolah Rakyat Modern di Gresik

lidikmedia
Img 20251130 Wa0224

 

Gresik | Lidikmedia.com – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani melakukan visitasi ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 45 Semarang pada Minggu (30/11/2025). Dalam kunjungan tersebut, Bupati didampingi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Sosial (Kemensos) RI, Robben Rico.

Kegiatan visitasi ini juga dihadiri Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin, Kepala OPD Pemkab Gresik, Kepala Dinas Sosial Kota Semarang Endang Sarwiningsih, serta Kepala SRT 45 Semarang, Ridho Irwanto.

Bupati Fandi Akhmad Yani menuturkan bahwa kunjungan ini bertujuan mempelajari sistem dan keberhasilan program SRT 45 Semarang. Sekolah tersebut merupakan inisiatif Kemensos dengan konsep pendidikan berasrama setara SD, SMP, dan SMA bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, sebagai upaya memutus rantai kemiskinan.

“Dari visitasi ini, kita belajar bagaimana tantangan dan solusi pengelolaan Sekolah Rakyat Terintegrasi yang menampung siswa SD hingga SMA. Harapannya, program serupa dapat direplikasi dan diterapkan di Kabupaten Gresik untuk mendukung pengentasan kemiskinan melalui pendidikan,” ujar Gus Yani.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi di Kabupaten Gresik direncanakan berlokasi di Desa Raci Tengah, Kecamatan Sidayu. Sekolah tersebut akan dilengkapi fasilitas terpadu, mulai dari ruang belajar, sarana olahraga hingga ruang terbuka hijau.

“Berdiri di atas lahan lebih dari 5 hektare dengan luas bangunan total 62.577 meter persegi, SR Gresik akan memiliki 26 jenis bangunan. Di antaranya 36 ruang kelas, laboratorium, klinik, hingga gedung olahraga dengan fasilitas badminton, basket, mini soccer, serta jogging track,” terangnya.

Gus Yani menyebutkan bahwa SRT 45 Semarang menjadi contoh ideal karena memiliki fasilitas lengkap, mulai dari asrama, ruang kelas modern, laboratorium, hingga perangkat laptop untuk guru dan siswa. Kurikulumnya juga memadukan pendidikan akademik, karakter kebangsaan, dan vokasi.

“Kami ingin membawa praktik baik dari SRT 45 Semarang untuk disesuaikan dan dikembangkan sesuai karakter masyarakat Gresik. Ini bagian dari komitmen kami dalam pemerataan kualitas pendidikan,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekjen Kemensos RI, Robben Rico, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat hadir sebagai bentuk nyata inklusi pendidikan bagi masyarakat yang tidak tersentuh layanan pendidikan formal.

Menurut Robben, Sekolah Rakyat tidak hanya menawarkan jalur pendidikan alternatif, tetapi juga membuka ruang pemulihan sosial. Banyak peserta didik yang sebelumnya kehilangan kepercayaan diri dan arah hidup, kini mampu kembali bermimpi dan memiliki tujuan.

“Program ini membuka kesempatan bagi mereka yang dulu tak pernah membayangkan bisa menjadi guru, direktur, atau profesional. Sekolah Rakyat membuat harapan itu hidup kembali,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa ada tiga prinsip utama yang harus dipegang oleh sekolah rakyat:

1. Memuliakan orang kecil,

2. Menjangkau mereka yang tidak terjangkau pendidikan, dan

3. Memungkinkan hal yang dianggap mustahil.

 

Robben juga menyampaikan bahwa Kemensos menyediakan 2.600 beasiswa bagi siswa Sekolah Rakyat di Indonesia.

Saat ini, tercatat 13.864 anak usia 7–12 tahun di Jawa Tengah dan 23.041 anak di Jawa Timur yang belum mengenyam pendidikan. Karena itu, keberadaan Sekolah Rakyat sangat vital dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045.

“Ini penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas akses bagi seluruh lapisan masyarakat,” tandasnya.

(Red/Isa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *