Gresik | Lidikmedia.com – Tradisi Sedekah Bumi di Dusun Bengkelolor, Desa Bengkelolor, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, yang semestinya menjadi wujud rasa syukur warga atas limpahan rezeki, justru berujung ricuh pada siang hari, di tengah hujan deras.
Kericuhan dipicu oleh ulah sejumlah pemuda yang diduga berada di bawah pengaruh minuman keras. Mereka memaksa meminta saweran kepada Kepala Desa Bengkelolor, Purwanto, sehingga situasi sempat memanas dan hampir berujung bentrok antarwarga.
Dari pantauan di lokasi, aroma alkohol tercium cukup menyengat. Beberapa warga bersama jurnalis media lokal yang tengah meliput acara pun berupaya menenangkan massa agar keadaan tidak semakin tidak terkendali.
Kegiatan Sedekah Bumi tahun ini menampilkan sound system berdaya besar (sound horeg) yang menggema hingga ke luar dusun. Namun, kuat dugaan bahwa acara tersebut tidak mengantongi izin resmi dari pihak berwenang.
Saat dikonfirmasi mengenai izin dan tanggung jawab kegiatan, Kepala Desa Bengkelolor, Purwanto, hanya memberikan jawaban singkat,
> “Ini kegiatan dusun,” ujarnya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Sementara Kepala Dusun Bengkelolor juga enggan memberikan keterangan kepada awak media. Sikap diam dua perangkat desa tersebut menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat.
Padahal, Sedekah Bumi merupakan warisan budaya sarat makna spiritual dan bentuk syukur kepada Tuhan atas hasil panen dan rezeki yang diterima warga. Sayangnya, makna luhur tersebut seolah pudar akibat perilaku segelintir oknum yang menjadikannya ajang pesta dan kekacauan.
Warga berharap pemerintah desa dapat bersikap lebih tegas serta selektif dalam memberikan izin kegiatan ke depan, agar nilai-nilai sakral Sedekah Bumi kembali ke hakikatnya: ungkapan syukur, kebersamaan, dan ketenangan masyarakat.
(Tim/Red)












