Gresik | Lidik Media – Masyarakat Dusun Karang Asem RT 10 RW 02, Desa Sirnoboyo, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, menunjukkan semangat kebersamaan dalam memeriahkan tradisi Sedekah Bumi, Minggu (26/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi wujud rasa syukur atas hasil bumi, sekaligus mempererat tali silaturahmi dan melestarikan budaya warisan leluhur.
Pada pelaksanaan tahun ini, warga RT 10 RW 02 menjadi penggerak utama penyelenggaraan kirab gunungan hasil bumi. Gunungan dihiasi berbagai hasil pertanian, buah-buahan, dan sayuran sebagai simbol kemakmuran serta doa agar panen berikutnya semakin melimpah.

Dalam falsafah Jawa, tradisi Sedekah Bumi mengandung nilai luhur “Memayu Hayuning Bawana”, yaitu ajaran untuk menjaga, merawat, dan melestarikan kehidupan serta alam semesta agar tetap harmonis. Nilai tersebut diwariskan secara turun-temurun sebagai pengingat bahwa manusia tidak hanya menikmati hasil bumi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab budaya yang mengelilingi dusun, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin sesepuh desa dan tokoh agama sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus memohon keselamatan, keberkahan, dan hasil panen yang melimpah bagi seluruh warga.
Suasana semakin semarak saat masyarakat mengikuti tradisi perebutan gunungan hasil bumi. Tradisi ini dipercaya membawa berkah, rezeki, dan harapan baik bagi siapa saja yang memperoleh hasil bumi dari gunungan tersebut.
Kebersamaan warga juga terlihat saat menikmati makan tumpeng bersama. Momen ini menjadi simbol persatuan dan kekeluargaan yang mampu mempererat hubungan antarmasyarakat tanpa memandang usia maupun latar belakang sosial.
Memasuki malam hari, kemeriahan acara berlanjut dengan pagelaran seni tradisional berupa wayang kulit dan tayub dari Mojokerto yang dipentaskan oleh Dalang Kie Wadiono. Pertunjukan tersebut menjadi hiburan rakyat sekaligus bagian penting dalam menjaga kelestarian seni dan budaya Jawa.
Bagi masyarakat Dusun Karang Asem, Sedekah Bumi bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya bangsa yang sarat dengan nilai gotong royong, kebersamaan, rasa syukur, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Di tengah arus modernisasi, tradisi ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Dusun Karang Asem RT 10 RW 02 tetap mampu mempertahankan identitas budaya, memperkuat semangat gotong royong, menumbuhkan toleransi, serta menanamkan kecintaan terhadap lingkungan dan warisan leluhur.
Melalui pelestarian tradisi Sedekah Bumi, masyarakat Dusun Karang Asem RT 10 RW 02 membuktikan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber inspirasi dalam membangun kehidupan yang harmonis, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
(Isa)












